Category Archives: Raisa Aribatul

Hai Mas Riza, Apa Kabar?

Assalamualaikum

Hai mas Riza, apa kabar? Tepat satu bulan ini kita tidak pernah bermain bersama, berbincang, bahkan bertukar kabar. Tepat pada tanggal 31 (Juli) yang lalu, saat aku berpamit pulang ke Solo, kamu ucapkan kata perpisahan dan seperti biasa “Hati-hati dek”. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, padahal aku tahu waktumu tidak banyak, dan parahnya aku tetap memutuskan pulang untuk acara yang tidak ada artinya jika kubandingkan dengan keberadaanmu mas Riza. Kalo bukan mas Riza, bukan masku namanya. Bahkan sampai menjelang akhir waktunya, tetap memperhatikan dan memikirkan yang terbaik untuk adeknya.

IMG-20160804-WA0046

Ahad, 31 Juli 2016 saat itu, agendaku sangat padat. Atas saran dan nasehat mas Riza, pagi hari itu aku harus memenuhi perintah Surat Tugas dari UNIBA Surakarta untuk acara Dies Natalis kampus, apalagi aku baru saja diterima dan diangkat sebagai dosen tetap Yayasan disana. Siang harinya aku ada siaran langsung dengan program TV CNN Indonesia, wawancara terkait petisi kepada FIBA untuk mencabut larangan memakai jilbab di kompetisi bolabasket Internasional yang sudah aku perjuangkan sejak bertahun-tahun lalu. Sore harinya aku harus mendampingi PP Perbasi untuk Coaching Clinic di Gor Punokawan Karanganyar yang merupakan agenda Perbasi untuk mengembangkan bolabasket di daerah-daerah. Kesempatan yang bagus bagiku untuk berinteraksi langsung dengan PP Perbasi, sharing dan saling bertukar ilmu dan informasi, dan tentu saja mengenai peraturan FIBA yang melarang memakai penutup kepala, yang aku sangat berharap Perbasi Indonesia mau mendukung dan memperjuangkannya.

Awalnya aku hanya ingin disini, menemani mas Riza, tapi mas Riza begitu meyakinkanku dan akupun harus pulang ke Solo. Diperjalanan hatiku tidak tenang, rasa khawatir yang tidak biasa, air mata terus mengalir dan kabar yang dikirimkan mbak Dewi (istri mas Riza) bukan hal yang baik. Ingin rasanya segera putar balik kembali ke Malang..tapi apa daya. Hingga lewat tengah malam, tidak ada kabar lagi dari mbak Dewi, tidak bisa dihubungi, begitu pula mas Riza. Hingga waktu menunjukkan pukul 3 dini hari, suamiku menjemput di stasiun Solo Balapan. Dari dalam mobil, karena yang bisa kuhubungi adalah tante yang sedang mendampingi mas Riza, dari seberang aku hanya mendengar suara isak tangis. Mas Riza dalam kondisi yang susah bernafas, berulang-ulang mengucap syahadat dan istighfar. Beberapa kali minta telp ustadz Jon dan Bapak..agar menuntun mengucapkan talqin. Tidak panik, mas Riza sama sekali tidak panik, tidak seperti sore tadi saat mengeluh susah bernafas.

Di saat adzan Subuh berkumandang begitu khidmatnya, mas Riza telah tiada, meninggalkan dunia yang fana ini, meninggalkan keluarga, bapak ibu yang melahirkan, istri dan anak yang dicintainya. Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun.. Walkhamdulillahi rob-bil’alamiin.. Kalimat kedua ini secara spontan keluar dari mulutku, mungkin karena dari tahun lalu aku yang sering merawat dan menjaga mas Riza saat berobat atau kemo, mendampingi di RS seminggu terakhir yang itu adalah saat-saat kanker Synovial Sarcoma di lutut kiri mas Riza bermetastase dengan cepat dan ganasnya, hingga mengalami kelumpuhan perlahan dari kaki hingga malam terakhir saat aku pulang, mas Riza melakukan sholat dengan isyarat kedipan mata dan takbir melalui mulutnya. Alhamdulillahi rob-bil’alamiin..mas Riza tidak lagi kesakitan, mas Riza sembuh, dua kalimat syahadat secara sempurna terucap di mulutnya hingga roh mas Riza di ambil oleh malaikat Izrail. Begitu tegar, bahkan 12 saudara yang mendampingi tidak bisa menyembunyikan isak tangisnya. Insya Allah khusnul khotimah ya mas Riza..

IMG-20160731-WA0001

Aku bukanlah satu-satunya yang bersedih, tapi entah mengapa aku merasa yang paling sedih dan paling kehilangan. Aku kehilangan kakak, patner, guru gitar, ustadz, coach, manajer dan contoh tauladan dalam kesederhanaan yang sangat qona’ah dan istiqomah. Mau dibawa kemana basketku sekarang mas?? Kamu sudah tiada.. L Basket adalah kehidupanku mas, kehidupan dari keluargaku, untuk siapa sekarang aku bermain bolabasket mas?? Toh juga nanti jika aku bisa keliling dunia bermain basket, siapa yang akan mengingatkanku untuk ibadah dan studi? Menasehatiku untuk bermain cerdas dan melakukan trik-trik Tony Parker dan Stephen Curry? Begitu sempurna mas Riza di mataku mas, tapi Allah jauh mengetahui apa yang dipandang manusia seperti aku. Hingga Allah pun merindukanmu. Mencukupkan waktumu disini hingga 29 tahun saja.

Jpeg
Jpeg

Ba’da subuh, saya dan suami bersiap untuk pulang ke Ponorogo, jenazah mas Riza setelah dimandikan di RS Syariful Anwar Malang dan disholatkan di masjid perumahan, dibawa pulang ke Ponorogo untuk dimakamkan di Ngunut. Ucapan bela sungkawa dan doa melalui media, chat dan telp terus-terusan memenuhi notifikasi. Obrolan di sepanjang perjalanan dengan mbak Dina berkutat di seputar kenangan-kenangan indah masa lalu. Dan mbak Dina dan mas Ebit memang mengiyakan, jika mas Riza paling dekat denganku secara hubungan pribadi. Tidak heran jika semasa sakit dari tahun lalu, mas Riza dan mbak Dewi selalu memprioritaskan aku untuk direpoti. Saat mas Riza memilih mbak Dewi untuk menjadi istrinya pun, curhatnya hampir setiap hari kepadaku J

Jpeg
Jpeg

Mas..adek bangga sekali punya kakak seperti mas Riza. Mas Riza memiliki andil besar membuat adek seperti sekarang. Adek dari kecil yang nakalnya minta ampun, mas Riza selalu sabar dan tidak bosan-bosan mengingatkan dan memberi nasehat. Jika bertengkar dan berkelahi, mas Riza selalu mengalah, itu yang dikatakan Ibu. Jika bukan karena mas Riza, tidak bisa kubayangkan seperti apa aku sekarang, yang dulu seperti preman kecil, suka bertengkar dengan laki-laki, ikut bermain bola dan layang-layang sampai kulit menjadi hitam. Keluarga besar bani Hasan dan Bani Abubakar satu suara sepakat, bahwa kemuliaan mas Riza adalah pada kesabaran dan ketelatenannya. Pagi ini saat sudah sampai dirumah, penuh dengan tetangga, jamaah dan keluarga aku tak kuasa kembali menahan tangis. Saat bertemu bapak, dalam pelukannya kami menangis tersedu-sedu. Selama bapak sakit, bapak kurang bisa membantu langsung dalam menemani dan merawat mas Riza, karena bapak sendiri sakit kanker Multiple Mhyloma sejak tahun 2014 lalu.

Aku jadi teringat, waktu itu hari yang sibuk dan berjalan sangat cepat. Saat aku di Malang, ditempat mas Riza, aku menghubungi temanku untuk minta dibuatkan kaos. Simple saja, asalkan besok jadi. Kaos itu bertuliskan “This Cancer from Allah, Who gave better than Allah?” yang sengaja kubuat 2 buah saja untuk mas Riza dan bapak. Sebagai semangat dan motivasi tujuanku, tapi hal ini malah membuat mas Riza, mbak Dewi dan bapak menitikkan air mata saat kuberi kaos ini.

IMG-20140803-WA0019

Hari terakhir sebelum aku pulang, kita ngobrol sedikit tentang basket. Saat aku bertanya siapa pemain idola mas Riza, jawabnya adalah adek kandungnya sendiri ini. Sayangnya waktu itu, kenapa mas Riza tidak bertanya kepada adek, untuk siapa adek bermain basket? Jika ini saya anggap belum terlambat untuk menjawab, adek bermain basket setengahnya adalah untuk keluarga, dan setengah lagi adalah untuk hijab yang telah kuperjuangkan. Tanpa mas Riza aku merasa telah kehilangan separuh tujuanku dalam basket mas. Jika FIBA tidak segera mencabut aturannya yang melarang jilbab untuk bermain basket, saya rasa, separuh yang tersisa akan hilang juga. Harus bagaimana lagi mas, adek bermain basket untuk tujuan yang seperti apa? Yaa..itu mungkin pelajaran yang harus kupetik, menjadi PR bagiku jika nanti sudah pensiun dan tidak bermain basket lagi.

I love you mas Riza, but Allah love you more…

IMG_2565

2

Untuk semua keluargaku yang aku cintai (Umi Abi, Papa Mama, mas Ebit mbak Ulil, trio H, mas Toni mbak Dina, duo A, mas Azhar, dan semuanya), mari kita meneladani kebaikan dan amalan mas Riza semasa hidup, dan saling mengingatkan untuk lebih baik, supaya kita bisa mengejar pahala dan bisa memasuki surganya mas Riza bersama-sama.

 

Raisa Surabaya Fever: Lets go Girls..!!!! Facing The CHAMPIONS Series WIBL 2015-2016… ^0^)/

Assalamu’alaikum

Masih seputar dunia bola basket, dan tentunya bersama tim Surabaya Fever, keluargaku. Jangan salah, keluargaku banyak. Antara lain keluarga yang melahirkan dan membesarkanku, keluarga baruku yang baru terbentuk 6 bulan lalu, dan disini..keluargaku juga.

2314096_1_S

Tidak lepas dari peran liga profesional perempuan di Indonesia, yang telah mempertahankan keluargaku. Memang berbeda dari tahun lalu, WNBL telah usai dan kini WIBL, tapi bagiku ini sama saja..membuat kami tetap bersama. Statusku yang baru pun tidak berpengaruh, kami tetap bisa bersama. Terimakasih ya Allah, Engkau anugerahkan padaku suami yang begitu mencintai hobi dan lingkungan istrinya. Merelakan sebagian waktu dan fokus istrinya pada Surabaya Fever.

Saya ingin menceritakan bagaimana kesan pada status baruku dan liga baru timku. Bulan Maret 2016 adalah seri pertama WIBL yang diadakan di Semarang, berlanjut pada bulan berikutnya adalah seri kedua WIBL di Surabaya. Dan memang hanya 2 seri untuk liga WIBL ini, dengan peserta 4 tim (tentu pada season berikutnya, aku sangat berharap lebih banyak peserta WIBL dan lebih banyak seri). Begitu berbeda atmosfer yang kurasakan ketika seri kedua (28 April – 1 Mei 2016) berlangsung di gor CLS Kertajaya Surabaya, tempat yang sudah seperti rumahku sendiri. Sangat sangat senang dan merasa sangat didukung (bagi atlit berjilbab), pada game pertama Fever vs Merah Putih (28 April) full team Surabaya Fever mendapat kesempatan memakai kaos ‘HOOPING WITH HIJAB’ untuk pemanasan. Yaa..aku harus berkampanye dari lingkungan terdekatku terlebih dulu untuk memperjuangkan atlit berjilbab. (Belakangan aku baru menyadari, bertanding di tempat kita tidak menjamin performa yang memuaskan LL  Banyak yang menjadi evaluasi dan koreksi bagi kami dari seri dua Surabaya kemarin).

Team Surabaya Fever memakai kaos ‘HOOPING WITH HIJAB’ saat pemanasan pada game pertama seri Surabaya WIBL
Team Surabaya Fever memakai kaos ‘HOOPING WITH HIJAB’
saat pemanasan pada game pertama seri Surabaya WIBL

Status baruku menjadi seorang istri tentunya sudah (sedikit) berubah dari yang dulu maniak bola basket. Saat ini harus memikirkan bagaimana aku bisa bermanfaat di kehidupanku nanti, tentunya dalam mengamalkan ilmu, baik di dunia bola basket maupun di dunia akademisi nantinya.  Akhir bulan April aku sibuk mencari informasi penerimaan dosen dan mengirimkan beberapa lamaran, antara lain ke UNIBA (Univ. Islam Batik Surakarta), IAIN Surakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogayakarta. Kesemuanya di daerah Solo dan sekitarnya, tempat yang Insya Allah aku dan suami akan menghabiskan waktu bersama, kami tinggal di kota Karanganyar, pinggiran kota Solo.

Sabtu, 14 Mei 2016 tepat waktu subuh, suamiku datang ke Surabaya, untuk memenuhi undangan dari Pasca Sarjana kampus kita, Universitas Airlangga. Aku dan suami sebagai alumni (suamiku adalah wisudawan terbaik S2 Unair dan lulus tepat waktu 4 semester, karya tulisnya –Tesis- berhasil submit dan diterima pada “The 4th South East Asia International Islamic Philanthropy Conference -4th SEA IIPC- di Bandung 25-27 February) dan aku yang ‘nebeng’ nama besar suamiku turut menghadiri undangan kampus untuk kepentingan Akreditasi Pascasarjana Ekonomi Islam tiap 5 tahunan. Belakangan baru kuketahui, bahwa aku dan mas Azhar (suamiku) berhasil menikah adalah salah satu prestasi kampus.. hahahaa ^0^ Dan capaian tertinggiku dan suamiku saat menempuh S2 di Unair adalah berhasil menemukan jodoh dan menikah.. Heheheee so swiiiiiiit :::*

1462137219354

Beruntung sekali saat ini ada suamiku, yang membantuku membawa-bawa koper, karena hari ahad itu kami harus pulang ke Solo , kami memilih naik bus. Senin 16 Mei 2016 aku mendapat panggilan untuk tes TPA penerimaan dosen IAIN Surakarta dengan sistem komputerisasi (CAT). Bersamaan itu pula pengumuman dari UIN Yogyakarta, bahwa aku harus mengikuti tes tahap berikutnya yaitu Tes TPA, warancara dan uji kompetensi (Micro Teaching) pada esok harinya, selasa dan rabu tanggal 17-18 Mei 2016. Bersamaan itu juga, aku harus membatalkan mengikuti acara tim Surabaya Fever untuk penyegaran, outbond di Bandung pada tanggal 16-18 Mei.

Tes Penerimaan Dosen Tetap di IAIN Surakarta dan UIN Yogyakarta
Tes Penerimaan Dosen Tetap di IAIN Surakarta dan UIN Yogyakarta

Senin, pukul 08.00 pagi pesawat yang membawa tim Surabaya Fever berangkat ke Bandung. Bersamaan saat itu aku menjalani tes Potensi Akademik di IAIN Surakarta. Gunung Puntang (sekitar 4 jam perjalanan darat dari pusat kota Bandung), surabaya Fever memilih untuk outbond disana, menginap di Villa Gunung Puntang Jaya. Hari ini acara bebas, menikmati pemandangan disekeliling dan menikmati segarnya udara pegunungan disertai hujan yang lumayan deras sore ini. Keesokan harinya adalah yang ditunggu-tunggu. Setelah bersantap makan pagi, tim bersiap untuk Rafting, menjelajah alam melalui aliran sungai. Tentu heboh dan sangat seru, yaa meskipun saat itu aliran sungai tidak sedang deras-derasnya. Dirasa istirahat sudah cukup, sekitar pukul 2 siang tim Fever bermain Paintball. Menembak tanpa membunuh, dengan target bendera di tengah, siapa yang berhasil mengambil dan menempatkannya di wilayah musuh, adalah tim yang menang. Beberapa peluru yang mengenai badan, atau bagian tubuh yang tidak dilindungi, bisa jadi memar dan membiru. Tapi hal itu tentu sama sekali tidak menyakitkan hati, justru sebaliknya..bisa-bisanya kami malah menertawakannya. Hahahaa..

Keseruan Team Fever saat Rafting dan Paintball di Gunung Puntang Bandung
Keseruan Team Fever saat Rafting dan Paintball di Gunung Puntang Bandung

 

Keseruan Team Fever saat Rafting dan Paintball di Gunung Puntang Bandung
Keseruan Team Fever saat Rafting dan Paintball di Gunung Puntang Bandung

Sore ini tim ditemani oleh turunnya hujan lagi. Membuat kami ingin selalu berdekatan mencari kehangatan.. ciee.. Keesokan harinya, hari Rabu kami masih mempunyai kegiatan yang tak kalah serunya. Fever dibagi menjadi 2 tim, kami bermain kekompakan tim, koordinasi dan pengambilan keputusan. Permainan itu antara lain adalah memindahkan bola pimpong dengan bambu & tali, memindahkan stik kayu dengan bahu & leher, memindahkan 7 orang (setim) dengan hanya 5 alas kotak untuk pijakan, dan terakhir bagaimana satu tim bisa duduk saling pangku dengan formasi melingkar dan meletakkan tangan di atas.. Jika hanya membaca melalui tulisan ini, sepertinya memang tidaklah menarik. Tapi, lihatlah lebih jauh..bagaimana kita melakukannya, dengan siapa kita menjalaninya, dan makna apa yang kita dapat dari kegiatan itu.

1464054408779

1464054485743

Aku teringat kata-kata tentang indahnya kebersamaan

Mengapa hujan itu menyenangkan?

Karena turunnya rame-rame

Pasti garing kalau hujan itu turunnya hanya satu tetes

Mengapa nasi itu lezat dan mengenyangkan?

Karena dihidangkan rame-rame

Pasti bengong kalau hanya satu butir nasi saja di atas piring

Mengapa gigi itu berguna?

Karena rame-rame berbaris rapi, pasti ompong kalau cuma satu

Tidak bisa untuk mengunyah

Sungguh, di dunia ini sesuatu yang positif selalu spesial saat bersama-sama melakukan

Shalat jamaah, bersama tentu lebih afdol

Tilawah bersama, tentu lebih istiqomah

Belajar bersama, saling bantu lebih banyak yang dipelajari

Bekerja bersama, saling tolong tentu lebih cepat selesai

Itulah gunanya teman baik

Teman yang saling menasehati dan mengingatkan

Bersama selalu lebih seru 

Kalian tahu kenapa keyboard leptop harus lengkap?

Karena hilang satu saja, rasanya tidak utuh lagi

Begitulah pertemanan yang baik

Hilang satu, terasa kosong semuanya

Bersama selalu lebih menyenangkan

  • Darwis Tere Liye –

 

Bersamaan hari-hari itu juga, aku menjalani tahapan Tes TPA, wawancara dan tes kompetensi di UIN Yogyakarta. Itulah yang harus aku pilih, daripada bersama tim Fever untuk outbond. Disini saya sedang tidak membicarakan ‘pilihan’, tetapi ‘Prioritas’. Saat ini, dan mungkin untuk kedepannya masing-masing orang akan mempunyai beberapa prioritas dan akan terus bertambah yang semakin membingungkan untuk membuat keputusan. Itulah yang sedang aku pelajari dari kehidupan. Sangat besar harapanku (setelah berakhirnya WIBL bulan ini), aku bisa melakukan hal-hal yang berguna, menyalurkan ilmu yang kudapat dari dunia bola basket dan kampus, mendapatkan pekerjaan, dan mendapatkan momongan.. Aamiin aamiin ya Allah.

Di sela-sela rutinitas jadwal latian, Team Fever menyempatkan diri untuk menikmati pemandangan alam Tebing Keraton dan berendam di air hangat Ciater Lembang
Di sela-sela rutinitas jadwal latian, Team Fever menyempatkan diri untuk menikmati
pemandangan alam Tebing Keraton dan berendam di air hangat Ciater Lembang
Di sela-sela rutinitas jadwal latian, Team Fever menyempatkan diri untuk menikmati pemandangan alam Tebing Keraton dan berendam di air hangat Ciater Lembang
Di sela-sela rutinitas jadwal latian, Team Fever menyempatkan diri untuk menikmati
pemandangan alam Tebing Keraton dan berendam di air hangat Ciater Lembang

Kamis 19 Mei 2016 aku kembali bergabung dengan tim, dan hari ini sudah mulai latian. Yaa meskipun aku masih sedikit mengantuk setelah perjalanan semalaman Jogja-Bandung dengan kereta. Latian dan beberapa uji coba kami lalui seminggu ini untuk persiapan Champion Series WIBL di Jakarta tanggal 26-29 Mei 2016 nanti. Disela-sela latian, kami menyempatkan untuk berendam air hangat (yang tentunya juga untuk menjaga kebugaran) di Ciater, Lembang sebelum esok harinya kami bertolak ke Jakarta. Selasa, 24 Mei (H-2 sebelum final WIBL) siang kami berangkat ke Jakarta. Keputusanku sudah bulat, atas saran dari suami juga, untuk tidak memenuhi panggilan tahapan berikutnya untuk Tes Dosen di IAIN Surakarta yang diselenggarakan hari ini. Agar lebih fokus untuk pertandingan Final WIBL minggu ini (atas pertimbangan kesehatan juga, biar tidak terlalu capek..hehe). Meskipun mungkin fokusku sedikit terganggu karena hari ini Rabu 25 Mei adalah pengumumanku apakah lolos diterima menjadi Dosen Tetap Non PNS di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Huuufh…bismillah, semoga Allah memberikan jalan terbaik..

Aamiin.. (Sambil intip-intip lihat pengumuman online)

Lets go Girls..!!!! Facing The CHAMPIONS Series WIBL 2015-2016… ^0^)/

Raisa Aribatul: 11-12-13 Yang Penuh Arti

Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, bukan juga waktu yang lama. Relatif..tergantung bagaimana kita menyikapi. Dua tahun lalu, kita diberikan kesempatan, karena tiba-tiba kuliah ditiadakan. Setelah nonton 99 Cahaya di Langit Eropa, kemudian makan malam..ya makan malam seperti biasa. Yang berbeda adalah hari ini kita mengikat komitmen untuk masa depan bersama. Komitmen untuk menjaga dan memperbaiki serta menyiapkan diri. Komitmen pada amanah dan tanggung jawab masing-masing, sampai nantinya kita akan dipersatukan dengan ridha Allah.

Makan malam Setelah nonton 99 Cahaya di Langit Eropa
Makan malam Setelah nonton 99 Cahaya di Langit Eropa

Tidak seperti pasangan muda mudi lainnya yang kemudian intensitas menghabiskan waktu berdua semakin sering, komunikasi menjadi hal yang wajib (wajib lapor), saling membatasi satu sama lain, hubungan kami wajar dan menjaga jarak masih berlaku. Kesibukan kami menjadi ikhtiar dalam mendekatkan diri kepada Allah. Bekal kami adalah kepercayaan. Kekhawatiran kami panjatkan dalam doa dan rindu kami batasi dengan puasa. Yaa…unik menurut saya, akan tetapi banyak yang kepengen ternyata..hehehe ^^ Saat ulang tahunku pada bulan Februari, aku mendapatkan ucapan lewat sms berupa doa dan harapan..Hanya itu. Cukup simpel kan, doa adalah segalanya lho, jangan sepelekan kekuatan doa.

Raisa2

Beberapa bulan kami bertemu dalam kelas kuliah, setelah itu pulang..karena sudah malam dan capek. Apalagi musim WNBL tengah bergulir, lumayan padat jadwal kami. Teman2 sekelas di Magister Sains Ekonomi Islam baru tahu tentang hubungan kami sekitar 6 bulan kemudian. Kami cukup rapi ternyata dalam menjaga hubungan..hehee Bukan bermaksud menyembunyikan, tetapi teman-teman merasa biasa aja dan tidak menanyakan kepada kami :D:D Begitu pula teman-teman asrama Surabaya Fever yang sudah seperti keluarga sendiri, entah karena saya jarang di asrama atau teman-teman yang terlalu cuek..mereka juga baru tahu sekitar 7 bulan kemudian. Yaa..memang Allah yang berhak tahu dan memutuskan, rahasia dan kegalauan kami bicarakan kepada Allah.

Pacaran Sehat Raisa dan Azhar
Pacaran Sehat Raisa dan Azhar

Bulan oktober saat ulang tahun si doi, aku belikan kado tas ransel dibungkus kotak dan kertas kado. Tidak terlalu istimewa memang, ditambah sepucuk surat ucapan dan doa. Baru saya sadari kalo ternyata itu kado baru dibuka 2 bulan kemudian..hahahaa seneng banget ternyata masku tak kasih kado, sampe gak mau buka karena sayang kalo rusak..:D:D

Makan malam bersama antara Raisa dan Azhar
Makan malam bersama antara Raisa dan Azhar

Satu tahun kemudian, 11-12-14 kami merefresh kembali komitmen kami dengan keluar makan malam. Ngobrol biasa tentang makanan kesukaan, warna, baju, dan tentunya tentang rencana kedepannya..itu yang paling penting^^ Komitmen kami bertambah kuat, komunikasi semakin intens, hubungan antar keluarga semakin terbuka. Apalagi saat acara nikahan saudara kandung, kami saling mengundang dan memperkenalkan kepada keluarga. Kalo tidak salah ingat, setelah itu kami baru komunikasi via telefon, ya..sebelumnya kami hanya sms, bbm atau whatsapp. Hahaa..silahkan jika anda ingin tertawa, karena memang begitulah kami..slow^^

Kedekatan Azhar dengan ayah Raisa
Kedekatan Azhar dengan ayah Raisa

Februari tahun 2015 aku mendapatkan kado, spesial banget pake telor untukku, bukan karena kado berupa jam tangan dan kaos, tapi karena siapa yang memberiku..hehehee Syukur Alhamdulillah, hubungan kami didekatkan oleh Allah. Setiap momen-momen bahagia, tidak lupa kami ceritakan kepada Allah. Selain kami bertambah dekat, bertambah pula Iman kepada Allah.

Bulan Mei saat Championship Series WNBL 2014-2015 masku datang nonton langsung di gor Hall A Senayan. Hahaa..jadi malu mengingat saat itu. Karena setelah tanding, aku memperkenalkannya kepada owner Fever (ce Lei dan ko Itop), sambil disoraki temen-temen fever gitu..hahaa Untungnya sempet mengabadikan momen melalui foto, yaa karena disuruh Gebbi, kalo nggak, mungkin kita gak foto (berdua)..^^

Azhar Mendukung Raisa di Final WNBL 2014 di Jakarta
Azhar Mendukung Raisa di Final WNBL 2014 di Jakarta

Sempat sedih, melihat euforia dan kebahagiaan Fever meraih Juara di WNBL..karena aku sangat khawatir, ini akan menjadi yang terakhir bagiku. Hmm..ah sudahlah, siapa yang tahu hari esok, hanya Allah. Bulan Juni dalam kompetisi Walikota Cup di Surabaya, tepatnya di gor Pasific, saat pertandingan final Unair vs Ubaya, ternyata Abi dan mas membicarakan sesuatu yang serius. Esok paginya saat sarapan

Azhar saat menemani Raisa Sidang S2 nya
Azhar saat menemani Raisa Sidang S2 nya

bersama di Mulyosari, mas mengutarakan rencananya untuk datang kerumahku di Ponorogo, minggu depan. Khitbah..atau lamaran, tepat sebelum bulan puasa. Suasana bahagia, tapi entah mengapa saya juga merasa sedih bercampur aduk menjadi satu. Sedih seakan-akan, jalan pernikahan membuatku terpisah dari dunia bola basket. Saya hanya memanjatkan doa dan mohon agar diberikan jalan yang terbaik untuk hubungan kami.

Maaf kepada teman-teman Fever, karena saya tidak berpamitan bahwa kali ini saya pulang kampung karena acara lamaran, juga kepada Mega & Gabriel yang masih berjuang di Sea Games Singapore. Khitbah ahad, 14 Juni 2015 berlangsung lancar dan saya katakan seru karena kedua pihak keluarga sangat akrab, bahkan sampai ejek-ejekan :D:D Menjadi penantian yang sangat membahagiakan waktu 4 bulan menjelang pernikahan..

Azhar dan Raisa yang berbahagia
Azhar dan Raisa yang berbahagia

Hari ini 11-12-15, dua tahun kemudian sejak saat itu (anggap aja hari jadian :D). Dulu kita berdua berkomitmen, sekarang kita telah bersatu dalam keluarga. Terimakasih mas telah hadir dan menjadi bagian dari hidupku, tetaplah sabar mendidikku, semoga kita bisa terus saling memaklumi dan saling mengenal satu sama lain hingga pada akhirnya kita dipertemukan di Surga Allah nanti. Aamiin..

Raisa Aribatul: My Wedding, The Big Big Big Moment in My Life

Assalamualaikum wr.wb

Masih terkait dengan basket dan kehidupan, dan tentunya dengan tidak melupakan kewajiban kita sebagai manusia di bumi ini. Kewajiban adalah hal yang sering dibicarakan, akan tetapi kebanyakan tentang hak yang justru lebih dikejar dan dituntut.

Saya sendiri sebagai makhluk Tuhan, sebagai anak, sebagai mahasiswa, sebagai atlit, sebagai kapten dan sebagai seorang istri hanyalah mewakili dari sekian banyak amanah dan kewajiban yang harus diemban para perempuan di dunia ini. Akan tetapi tidak penting siapa saya, apa kesibukan dan tugas saya, yang terpenting adalah bagaimana masing-masing dari kita menjalankan peran dan kewajiban dari setiap amanah yang diemban.

Di tengah rutinitas latian basket Surabaya Fever dan deadline Tesis bulan oktober 2015, saya harus pulang-pergi Surabaya-Ponorogo untuk persiapan Walimatul ‘Ursy (pesta pernikahan) pada tanggal 1 November 2015. Sebagai anak bungsu dari keempat bersaudara, saya harus berusaha meringankan persiapan yang dilakukan Abi Umi yang sudah tidak lagi muda, dan ketiga saudara saya berdomisili di luar ponorogo tidak bisa membantu secara maksimal.

Latihan terakhir saya bersama Fever sebelum menikah
Latihan terakhir saya bersama Fever sebelum menikah

Kamis 29 Okt 2015 di gor CLS Surabaya

Tidak ada yang bisa saya tinggalkan. Basket, tesis atau persiapan pernikahan. Tidak ada yang bisa menjamin sampai kapan saya bisa bermain basket. Setiap detiknya saat ini menjadi lebih berarti, saat berlatih bersama teman-teman fever. Penyelesaian tesis yang mendapat support penuh oleh orang tua, calon suami, calon mertua dan pembimbing tidak bisa saya abaikan begitu saja. Apalagi pernikahan yang menjadi penyempurna ibadah, yang disupport langsung oleh Tuhan.

لا يكلف الله نفساً إلا وسعها

“Allah tidak akan membebani hamba-Nya diluar batas kemampuannya” (QS. Al-Baqarah: 286)

Setelah sempat jatuh sakit, saya pasrahkan kepada Allah atas segala urusan. Dalam batin, saya merasa tidak mampu jika harus menyelesaikan Tesis sebelum menikah, sekitar 3 minggu lagi. Kesibukan yang membuat saya semakin stress, saya rubah menjadi kesibukan dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Setiap hari, ditemani oleh Gabriel yang bangun jam 3 pagi untuk mengerjakan skripsi, saya manfaatkan untuk bermunajat kepada Allah. Lanjut membaca al Quran, Dhuha dan latian Fever jam 6.30.

Kedamaian semakin terasa di dalam hati. Man jadda wa jadda.. Jika Allah sudah berkehendak, maka tidak ada kekuatan di bumi ini yang bisa mencegahnya.

Proses pengerjaan Tesis mulai pencarian data, pengolahan data, bimbingan, konsultasi dengan para dosen, alur birokrasi dan persayaratan begitu dimudahkan oleh Allah. Dalam waktu satu minggu, Tesis telah terselesaikan, kini tinggal berfokus pada acara pernikahan 10 hari lagi.

Sungguh tidak ada yang lebih baik dari rencana Allah. Begitu bu Tika selaku pembimbingku, menerima draft Tesis selengkapnya, ba’da Maghrib menghubungi saya untuk segera mendaftar sidang Tesis esok hari, dan mengajukan permohonan sidang pada hari Rabu minggu depan tanggal 28 Oktober 2015..itu kan 4 hari menjelang hari pernikahankuuu… !!!!

Astaghfirullah..subhanallah..alhamdulillah..penuh syukur sekaligus panik luar biasa dengan hal ini.

Sudah sering saya melakukan 2 hal sekaligus, paling sering bagaimana saya harus bertanding basket kampus di saat Ujian Semester tengah berlangsung.  Tapi ini adalah PERNIKAHAN..!!! the big big big moment in my life yang sebelumnya harus sidang TESIS untuk gelar S2 ku..yang preassure nya pasti berbeda dengan sidang S1. .. X0X$#@$#@$S!!!

Masya Allah..saya kembali bermunajat kepada Allah, mohon pertolongan atas apa yang di amanahkan kepadaku.

 2 1

“Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Rabu 21 Oktober 2015, beres sudah segala persyaratan untuk mengajukan permohonan sidang S2. Sambil terus memperbaiki penulisan Tesis, penguasaan materi dan presentasi. Mau tidak mau saya harus absen latian fever, apalagi hari sabtu saya mendapatkan berita bahwa Abi saya sakit dan harus opname di Rumah Sakit. Keinginan saya untuk pulang dan mengurus keluarga dan persiapan pernikahan, tidak mendapat izin dari keluarga, saya harus fokus dulu untuk sidang S2.

Pagi hari Rabu 28 oktober 2015 menjelang sidang, mas Azhar datang memsupport langsung, papa mertua telfon memberikan doa dan nasehat. Umi mengirimkan kabar gembira bahwa Abi sudah boleh pulang dari Rumah Sakit. Bismillah..sidang mulai jam 8 pagi di Ruang Sidang 207 Pascasarjana Universitas Airlangga, dengan 5 dosen penguji dihadapan saya. Alhamdulillah berlangsung sekitar 2 jam, berjalan lancar dan syukur kepada Allah saya mendapatkan nilai A ^^

6 7

Selesai sidang Tesis – S2 Magister Sains Ekonomi Islam  Rabu 28 Okt 2015 di Pascasarjana Universitas Surabaya

Rabu 28 Okt 2015 di Pascasarjana Universitas Surabaya

Di luar..mba Norma (teman S2), mas Azhar (calon suami) dan Anggita (Fever) telah menunggu, memberikan selamat dan ikut berbahagia. Para dosen juga ikut berbahagia dan memberikan selamat kepada saya dan mas Azhar, sebagai pasangan alumni S2 Magister Ekonomi Islam yang akan melangsungkan pernikahan 4 hari lagi..

Setelah 2 hari mengurus persyaratan wisuda dan mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa pulang, hari jumat ba’da Duhur saya pulang, naik mobil jemputan dari Ponorogo.

Tidak seperti calon pengantin kebanyakan, tidak ada pingitan karena baru bisa pulang 2 hari sebelum pernikahan. Tidak seperti calon pengantin kebanyakan yang tidak boleh keluar rumah menjelang pernikahan, hari sabtu seharian penuh saya mengurus perlengkapan dan properti yang sekiranya masih kurang. Saudara dan Abi mengurus persiapan di pondok untuk kedatangan keluarga karanganyar nanti malam, dan mempersiapkan masjid pondok untuk akad nikah besok pagi. Tidak seperti calon pengantin kebanyakan yang tidak boleh bertemu dengan calon suaminya, malam itu saya menyambut kedatangan keluarga karanganyar dan bertemu mas Azhar menemani Abi di pondok.

Malamnya tamu istimewa yang ditunggu-tunggu telah datang. Jam 11.30 malam, meskipun telah larut, kedatangan mereka mengobati rasa lelah, capek dan rasa was-was untuk menghadapi acara besok. Mereka adalah bagian dari diriku, kami hidup bersama, berjuang bersama, kebahagiaanku adalah kebahagiaan kami bersama, mereka tim basket Surabaya Fever. Mega, Gabriel, Sumi, Nilam, Gibeng, kak Sari, ce Mei, mas Febri, Gebbi, Jessica, Oik, Henny, Yoyo, Awe dan ce Cam. Terimakasih telah bersabar kepadaku hingga saat ini, selalu mengingatkan dan mensupport, menganggapku ada dan sebagai keluarga kedua.  Malam ini adalah malam terakhirku sebagai seorang ‘single’, harapanku kalian akan segera menyusul, menyempurnakan ibadah, memenuhi kewajiban sebagai makhluk Tuhan di dunia ini. Aamiin..

Malam sebelum pernikahan esok hari, bersama teman-teman Fever
Malam sebelum pernikahan esok hari, bersama teman-teman Fever

Sabtu, 31 Okt 2015 di rumah saya Ponorogo

Ahad, 1 November 2015

Aku terjaga dalam tidurku. Memikirkan hari ini aku tidak lagi tidur sendiri. Bahwa hari ini telah kusandarkan seluruh hidupku pada laki-laki dimana aku tidak punya ikatan darah dengannya. Telah terbuka pintu Surga seluas-luasnya bagiku, akan tetapi neraka telah siap melahapku jika aku teledor sedikit saja.

Jam 7 pagi di masjid Nuroh Pondok Darut Thullab, telah dilangsungkan ikatan suci, sakral dan disaksikan oleh para Malaikat yang menandakan bersatunya dua pasangan, bersatunya dua keluarga.  Nasehat walimah yang begitu ditunggu membuat kepala kami terus tertunduk. Merenung bagaimana kehidupan kedepannya nanti, bagaimana orang tua kami dan bagaimana kami di hadapan Allah nanti. Abi..yang mempunyai tanggung jawab penuh terhadap anaknya ini, yang menikahkan langsung, memasrahkan anaknya ini kepada laki-laki yang akan melanjutkan tanggung jawab dari orangtua.

Raisa Azhar Alam..itulah namaku sekarang, resmi mulai tanggal 1 November 2015.

Walimatul ‘Ursy (persta pernikahan) Raisa - Azhar  Ahad, 1 Nov 2015 di Tambak Kemangi Resort Ponorogo
Walimatul ‘Ursy (persta pernikahan) Raisa – Azhar
Ahad, 1 Nov 2015 di Tambak Kemangi Resort Ponorogo