Category Archives: SOSOK BASKET

Hai Mas Riza, Apa Kabar?

Assalamualaikum

Hai mas Riza, apa kabar? Tepat satu bulan ini kita tidak pernah bermain bersama, berbincang, bahkan bertukar kabar. Tepat pada tanggal 31 (Juli) yang lalu, saat aku berpamit pulang ke Solo, kamu ucapkan kata perpisahan dan seperti biasa “Hati-hati dek”. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, padahal aku tahu waktumu tidak banyak, dan parahnya aku tetap memutuskan pulang untuk acara yang tidak ada artinya jika kubandingkan dengan keberadaanmu mas Riza. Kalo bukan mas Riza, bukan masku namanya. Bahkan sampai menjelang akhir waktunya, tetap memperhatikan dan memikirkan yang terbaik untuk adeknya.

IMG-20160804-WA0046

Ahad, 31 Juli 2016 saat itu, agendaku sangat padat. Atas saran dan nasehat mas Riza, pagi hari itu aku harus memenuhi perintah Surat Tugas dari UNIBA Surakarta untuk acara Dies Natalis kampus, apalagi aku baru saja diterima dan diangkat sebagai dosen tetap Yayasan disana. Siang harinya aku ada siaran langsung dengan program TV CNN Indonesia, wawancara terkait petisi kepada FIBA untuk mencabut larangan memakai jilbab di kompetisi bolabasket Internasional yang sudah aku perjuangkan sejak bertahun-tahun lalu. Sore harinya aku harus mendampingi PP Perbasi untuk Coaching Clinic di Gor Punokawan Karanganyar yang merupakan agenda Perbasi untuk mengembangkan bolabasket di daerah-daerah. Kesempatan yang bagus bagiku untuk berinteraksi langsung dengan PP Perbasi, sharing dan saling bertukar ilmu dan informasi, dan tentu saja mengenai peraturan FIBA yang melarang memakai penutup kepala, yang aku sangat berharap Perbasi Indonesia mau mendukung dan memperjuangkannya.

Awalnya aku hanya ingin disini, menemani mas Riza, tapi mas Riza begitu meyakinkanku dan akupun harus pulang ke Solo. Diperjalanan hatiku tidak tenang, rasa khawatir yang tidak biasa, air mata terus mengalir dan kabar yang dikirimkan mbak Dewi (istri mas Riza) bukan hal yang baik. Ingin rasanya segera putar balik kembali ke Malang..tapi apa daya. Hingga lewat tengah malam, tidak ada kabar lagi dari mbak Dewi, tidak bisa dihubungi, begitu pula mas Riza. Hingga waktu menunjukkan pukul 3 dini hari, suamiku menjemput di stasiun Solo Balapan. Dari dalam mobil, karena yang bisa kuhubungi adalah tante yang sedang mendampingi mas Riza, dari seberang aku hanya mendengar suara isak tangis. Mas Riza dalam kondisi yang susah bernafas, berulang-ulang mengucap syahadat dan istighfar. Beberapa kali minta telp ustadz Jon dan Bapak..agar menuntun mengucapkan talqin. Tidak panik, mas Riza sama sekali tidak panik, tidak seperti sore tadi saat mengeluh susah bernafas.

Di saat adzan Subuh berkumandang begitu khidmatnya, mas Riza telah tiada, meninggalkan dunia yang fana ini, meninggalkan keluarga, bapak ibu yang melahirkan, istri dan anak yang dicintainya. Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun.. Walkhamdulillahi rob-bil’alamiin.. Kalimat kedua ini secara spontan keluar dari mulutku, mungkin karena dari tahun lalu aku yang sering merawat dan menjaga mas Riza saat berobat atau kemo, mendampingi di RS seminggu terakhir yang itu adalah saat-saat kanker Synovial Sarcoma di lutut kiri mas Riza bermetastase dengan cepat dan ganasnya, hingga mengalami kelumpuhan perlahan dari kaki hingga malam terakhir saat aku pulang, mas Riza melakukan sholat dengan isyarat kedipan mata dan takbir melalui mulutnya. Alhamdulillahi rob-bil’alamiin..mas Riza tidak lagi kesakitan, mas Riza sembuh, dua kalimat syahadat secara sempurna terucap di mulutnya hingga roh mas Riza di ambil oleh malaikat Izrail. Begitu tegar, bahkan 12 saudara yang mendampingi tidak bisa menyembunyikan isak tangisnya. Insya Allah khusnul khotimah ya mas Riza..

IMG-20160731-WA0001

Aku bukanlah satu-satunya yang bersedih, tapi entah mengapa aku merasa yang paling sedih dan paling kehilangan. Aku kehilangan kakak, patner, guru gitar, ustadz, coach, manajer dan contoh tauladan dalam kesederhanaan yang sangat qona’ah dan istiqomah. Mau dibawa kemana basketku sekarang mas?? Kamu sudah tiada.. L Basket adalah kehidupanku mas, kehidupan dari keluargaku, untuk siapa sekarang aku bermain bolabasket mas?? Toh juga nanti jika aku bisa keliling dunia bermain basket, siapa yang akan mengingatkanku untuk ibadah dan studi? Menasehatiku untuk bermain cerdas dan melakukan trik-trik Tony Parker dan Stephen Curry? Begitu sempurna mas Riza di mataku mas, tapi Allah jauh mengetahui apa yang dipandang manusia seperti aku. Hingga Allah pun merindukanmu. Mencukupkan waktumu disini hingga 29 tahun saja.

Jpeg
Jpeg

Ba’da subuh, saya dan suami bersiap untuk pulang ke Ponorogo, jenazah mas Riza setelah dimandikan di RS Syariful Anwar Malang dan disholatkan di masjid perumahan, dibawa pulang ke Ponorogo untuk dimakamkan di Ngunut. Ucapan bela sungkawa dan doa melalui media, chat dan telp terus-terusan memenuhi notifikasi. Obrolan di sepanjang perjalanan dengan mbak Dina berkutat di seputar kenangan-kenangan indah masa lalu. Dan mbak Dina dan mas Ebit memang mengiyakan, jika mas Riza paling dekat denganku secara hubungan pribadi. Tidak heran jika semasa sakit dari tahun lalu, mas Riza dan mbak Dewi selalu memprioritaskan aku untuk direpoti. Saat mas Riza memilih mbak Dewi untuk menjadi istrinya pun, curhatnya hampir setiap hari kepadaku J

Jpeg
Jpeg

Mas..adek bangga sekali punya kakak seperti mas Riza. Mas Riza memiliki andil besar membuat adek seperti sekarang. Adek dari kecil yang nakalnya minta ampun, mas Riza selalu sabar dan tidak bosan-bosan mengingatkan dan memberi nasehat. Jika bertengkar dan berkelahi, mas Riza selalu mengalah, itu yang dikatakan Ibu. Jika bukan karena mas Riza, tidak bisa kubayangkan seperti apa aku sekarang, yang dulu seperti preman kecil, suka bertengkar dengan laki-laki, ikut bermain bola dan layang-layang sampai kulit menjadi hitam. Keluarga besar bani Hasan dan Bani Abubakar satu suara sepakat, bahwa kemuliaan mas Riza adalah pada kesabaran dan ketelatenannya. Pagi ini saat sudah sampai dirumah, penuh dengan tetangga, jamaah dan keluarga aku tak kuasa kembali menahan tangis. Saat bertemu bapak, dalam pelukannya kami menangis tersedu-sedu. Selama bapak sakit, bapak kurang bisa membantu langsung dalam menemani dan merawat mas Riza, karena bapak sendiri sakit kanker Multiple Mhyloma sejak tahun 2014 lalu.

Aku jadi teringat, waktu itu hari yang sibuk dan berjalan sangat cepat. Saat aku di Malang, ditempat mas Riza, aku menghubungi temanku untuk minta dibuatkan kaos. Simple saja, asalkan besok jadi. Kaos itu bertuliskan “This Cancer from Allah, Who gave better than Allah?” yang sengaja kubuat 2 buah saja untuk mas Riza dan bapak. Sebagai semangat dan motivasi tujuanku, tapi hal ini malah membuat mas Riza, mbak Dewi dan bapak menitikkan air mata saat kuberi kaos ini.

IMG-20140803-WA0019

Hari terakhir sebelum aku pulang, kita ngobrol sedikit tentang basket. Saat aku bertanya siapa pemain idola mas Riza, jawabnya adalah adek kandungnya sendiri ini. Sayangnya waktu itu, kenapa mas Riza tidak bertanya kepada adek, untuk siapa adek bermain basket? Jika ini saya anggap belum terlambat untuk menjawab, adek bermain basket setengahnya adalah untuk keluarga, dan setengah lagi adalah untuk hijab yang telah kuperjuangkan. Tanpa mas Riza aku merasa telah kehilangan separuh tujuanku dalam basket mas. Jika FIBA tidak segera mencabut aturannya yang melarang jilbab untuk bermain basket, saya rasa, separuh yang tersisa akan hilang juga. Harus bagaimana lagi mas, adek bermain basket untuk tujuan yang seperti apa? Yaa..itu mungkin pelajaran yang harus kupetik, menjadi PR bagiku jika nanti sudah pensiun dan tidak bermain basket lagi.

I love you mas Riza, but Allah love you more…

IMG_2565

2

Untuk semua keluargaku yang aku cintai (Umi Abi, Papa Mama, mas Ebit mbak Ulil, trio H, mas Toni mbak Dina, duo A, mas Azhar, dan semuanya), mari kita meneladani kebaikan dan amalan mas Riza semasa hidup, dan saling mengingatkan untuk lebih baik, supaya kita bisa mengejar pahala dan bisa memasuki surganya mas Riza bersama-sama.

 

Raisa Surabaya Fever: Lets go Girls..!!!! Facing The CHAMPIONS Series WIBL 2015-2016… ^0^)/

Assalamu’alaikum

Masih seputar dunia bola basket, dan tentunya bersama tim Surabaya Fever, keluargaku. Jangan salah, keluargaku banyak. Antara lain keluarga yang melahirkan dan membesarkanku, keluarga baruku yang baru terbentuk 6 bulan lalu, dan disini..keluargaku juga.

2314096_1_S

Tidak lepas dari peran liga profesional perempuan di Indonesia, yang telah mempertahankan keluargaku. Memang berbeda dari tahun lalu, WNBL telah usai dan kini WIBL, tapi bagiku ini sama saja..membuat kami tetap bersama. Statusku yang baru pun tidak berpengaruh, kami tetap bisa bersama. Terimakasih ya Allah, Engkau anugerahkan padaku suami yang begitu mencintai hobi dan lingkungan istrinya. Merelakan sebagian waktu dan fokus istrinya pada Surabaya Fever.

Saya ingin menceritakan bagaimana kesan pada status baruku dan liga baru timku. Bulan Maret 2016 adalah seri pertama WIBL yang diadakan di Semarang, berlanjut pada bulan berikutnya adalah seri kedua WIBL di Surabaya. Dan memang hanya 2 seri untuk liga WIBL ini, dengan peserta 4 tim (tentu pada season berikutnya, aku sangat berharap lebih banyak peserta WIBL dan lebih banyak seri). Begitu berbeda atmosfer yang kurasakan ketika seri kedua (28 April – 1 Mei 2016) berlangsung di gor CLS Kertajaya Surabaya, tempat yang sudah seperti rumahku sendiri. Sangat sangat senang dan merasa sangat didukung (bagi atlit berjilbab), pada game pertama Fever vs Merah Putih (28 April) full team Surabaya Fever mendapat kesempatan memakai kaos ‘HOOPING WITH HIJAB’ untuk pemanasan. Yaa..aku harus berkampanye dari lingkungan terdekatku terlebih dulu untuk memperjuangkan atlit berjilbab. (Belakangan aku baru menyadari, bertanding di tempat kita tidak menjamin performa yang memuaskan LL  Banyak yang menjadi evaluasi dan koreksi bagi kami dari seri dua Surabaya kemarin).

Team Surabaya Fever memakai kaos ‘HOOPING WITH HIJAB’ saat pemanasan pada game pertama seri Surabaya WIBL
Team Surabaya Fever memakai kaos ‘HOOPING WITH HIJAB’
saat pemanasan pada game pertama seri Surabaya WIBL

Status baruku menjadi seorang istri tentunya sudah (sedikit) berubah dari yang dulu maniak bola basket. Saat ini harus memikirkan bagaimana aku bisa bermanfaat di kehidupanku nanti, tentunya dalam mengamalkan ilmu, baik di dunia bola basket maupun di dunia akademisi nantinya.  Akhir bulan April aku sibuk mencari informasi penerimaan dosen dan mengirimkan beberapa lamaran, antara lain ke UNIBA (Univ. Islam Batik Surakarta), IAIN Surakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogayakarta. Kesemuanya di daerah Solo dan sekitarnya, tempat yang Insya Allah aku dan suami akan menghabiskan waktu bersama, kami tinggal di kota Karanganyar, pinggiran kota Solo.

Sabtu, 14 Mei 2016 tepat waktu subuh, suamiku datang ke Surabaya, untuk memenuhi undangan dari Pasca Sarjana kampus kita, Universitas Airlangga. Aku dan suami sebagai alumni (suamiku adalah wisudawan terbaik S2 Unair dan lulus tepat waktu 4 semester, karya tulisnya –Tesis- berhasil submit dan diterima pada “The 4th South East Asia International Islamic Philanthropy Conference -4th SEA IIPC- di Bandung 25-27 February) dan aku yang ‘nebeng’ nama besar suamiku turut menghadiri undangan kampus untuk kepentingan Akreditasi Pascasarjana Ekonomi Islam tiap 5 tahunan. Belakangan baru kuketahui, bahwa aku dan mas Azhar (suamiku) berhasil menikah adalah salah satu prestasi kampus.. hahahaa ^0^ Dan capaian tertinggiku dan suamiku saat menempuh S2 di Unair adalah berhasil menemukan jodoh dan menikah.. Heheheee so swiiiiiiit :::*

1462137219354

Beruntung sekali saat ini ada suamiku, yang membantuku membawa-bawa koper, karena hari ahad itu kami harus pulang ke Solo , kami memilih naik bus. Senin 16 Mei 2016 aku mendapat panggilan untuk tes TPA penerimaan dosen IAIN Surakarta dengan sistem komputerisasi (CAT). Bersamaan itu pula pengumuman dari UIN Yogyakarta, bahwa aku harus mengikuti tes tahap berikutnya yaitu Tes TPA, warancara dan uji kompetensi (Micro Teaching) pada esok harinya, selasa dan rabu tanggal 17-18 Mei 2016. Bersamaan itu juga, aku harus membatalkan mengikuti acara tim Surabaya Fever untuk penyegaran, outbond di Bandung pada tanggal 16-18 Mei.

Tes Penerimaan Dosen Tetap di IAIN Surakarta dan UIN Yogyakarta
Tes Penerimaan Dosen Tetap di IAIN Surakarta dan UIN Yogyakarta

Senin, pukul 08.00 pagi pesawat yang membawa tim Surabaya Fever berangkat ke Bandung. Bersamaan saat itu aku menjalani tes Potensi Akademik di IAIN Surakarta. Gunung Puntang (sekitar 4 jam perjalanan darat dari pusat kota Bandung), surabaya Fever memilih untuk outbond disana, menginap di Villa Gunung Puntang Jaya. Hari ini acara bebas, menikmati pemandangan disekeliling dan menikmati segarnya udara pegunungan disertai hujan yang lumayan deras sore ini. Keesokan harinya adalah yang ditunggu-tunggu. Setelah bersantap makan pagi, tim bersiap untuk Rafting, menjelajah alam melalui aliran sungai. Tentu heboh dan sangat seru, yaa meskipun saat itu aliran sungai tidak sedang deras-derasnya. Dirasa istirahat sudah cukup, sekitar pukul 2 siang tim Fever bermain Paintball. Menembak tanpa membunuh, dengan target bendera di tengah, siapa yang berhasil mengambil dan menempatkannya di wilayah musuh, adalah tim yang menang. Beberapa peluru yang mengenai badan, atau bagian tubuh yang tidak dilindungi, bisa jadi memar dan membiru. Tapi hal itu tentu sama sekali tidak menyakitkan hati, justru sebaliknya..bisa-bisanya kami malah menertawakannya. Hahahaa..

Keseruan Team Fever saat Rafting dan Paintball di Gunung Puntang Bandung
Keseruan Team Fever saat Rafting dan Paintball di Gunung Puntang Bandung

 

Keseruan Team Fever saat Rafting dan Paintball di Gunung Puntang Bandung
Keseruan Team Fever saat Rafting dan Paintball di Gunung Puntang Bandung

Sore ini tim ditemani oleh turunnya hujan lagi. Membuat kami ingin selalu berdekatan mencari kehangatan.. ciee.. Keesokan harinya, hari Rabu kami masih mempunyai kegiatan yang tak kalah serunya. Fever dibagi menjadi 2 tim, kami bermain kekompakan tim, koordinasi dan pengambilan keputusan. Permainan itu antara lain adalah memindahkan bola pimpong dengan bambu & tali, memindahkan stik kayu dengan bahu & leher, memindahkan 7 orang (setim) dengan hanya 5 alas kotak untuk pijakan, dan terakhir bagaimana satu tim bisa duduk saling pangku dengan formasi melingkar dan meletakkan tangan di atas.. Jika hanya membaca melalui tulisan ini, sepertinya memang tidaklah menarik. Tapi, lihatlah lebih jauh..bagaimana kita melakukannya, dengan siapa kita menjalaninya, dan makna apa yang kita dapat dari kegiatan itu.

1464054408779

1464054485743

Aku teringat kata-kata tentang indahnya kebersamaan

Mengapa hujan itu menyenangkan?

Karena turunnya rame-rame

Pasti garing kalau hujan itu turunnya hanya satu tetes

Mengapa nasi itu lezat dan mengenyangkan?

Karena dihidangkan rame-rame

Pasti bengong kalau hanya satu butir nasi saja di atas piring

Mengapa gigi itu berguna?

Karena rame-rame berbaris rapi, pasti ompong kalau cuma satu

Tidak bisa untuk mengunyah

Sungguh, di dunia ini sesuatu yang positif selalu spesial saat bersama-sama melakukan

Shalat jamaah, bersama tentu lebih afdol

Tilawah bersama, tentu lebih istiqomah

Belajar bersama, saling bantu lebih banyak yang dipelajari

Bekerja bersama, saling tolong tentu lebih cepat selesai

Itulah gunanya teman baik

Teman yang saling menasehati dan mengingatkan

Bersama selalu lebih seru 

Kalian tahu kenapa keyboard leptop harus lengkap?

Karena hilang satu saja, rasanya tidak utuh lagi

Begitulah pertemanan yang baik

Hilang satu, terasa kosong semuanya

Bersama selalu lebih menyenangkan

  • Darwis Tere Liye –

 

Bersamaan hari-hari itu juga, aku menjalani tahapan Tes TPA, wawancara dan tes kompetensi di UIN Yogyakarta. Itulah yang harus aku pilih, daripada bersama tim Fever untuk outbond. Disini saya sedang tidak membicarakan ‘pilihan’, tetapi ‘Prioritas’. Saat ini, dan mungkin untuk kedepannya masing-masing orang akan mempunyai beberapa prioritas dan akan terus bertambah yang semakin membingungkan untuk membuat keputusan. Itulah yang sedang aku pelajari dari kehidupan. Sangat besar harapanku (setelah berakhirnya WIBL bulan ini), aku bisa melakukan hal-hal yang berguna, menyalurkan ilmu yang kudapat dari dunia bola basket dan kampus, mendapatkan pekerjaan, dan mendapatkan momongan.. Aamiin aamiin ya Allah.

Di sela-sela rutinitas jadwal latian, Team Fever menyempatkan diri untuk menikmati pemandangan alam Tebing Keraton dan berendam di air hangat Ciater Lembang
Di sela-sela rutinitas jadwal latian, Team Fever menyempatkan diri untuk menikmati
pemandangan alam Tebing Keraton dan berendam di air hangat Ciater Lembang
Di sela-sela rutinitas jadwal latian, Team Fever menyempatkan diri untuk menikmati pemandangan alam Tebing Keraton dan berendam di air hangat Ciater Lembang
Di sela-sela rutinitas jadwal latian, Team Fever menyempatkan diri untuk menikmati
pemandangan alam Tebing Keraton dan berendam di air hangat Ciater Lembang

Kamis 19 Mei 2016 aku kembali bergabung dengan tim, dan hari ini sudah mulai latian. Yaa meskipun aku masih sedikit mengantuk setelah perjalanan semalaman Jogja-Bandung dengan kereta. Latian dan beberapa uji coba kami lalui seminggu ini untuk persiapan Champion Series WIBL di Jakarta tanggal 26-29 Mei 2016 nanti. Disela-sela latian, kami menyempatkan untuk berendam air hangat (yang tentunya juga untuk menjaga kebugaran) di Ciater, Lembang sebelum esok harinya kami bertolak ke Jakarta. Selasa, 24 Mei (H-2 sebelum final WIBL) siang kami berangkat ke Jakarta. Keputusanku sudah bulat, atas saran dari suami juga, untuk tidak memenuhi panggilan tahapan berikutnya untuk Tes Dosen di IAIN Surakarta yang diselenggarakan hari ini. Agar lebih fokus untuk pertandingan Final WIBL minggu ini (atas pertimbangan kesehatan juga, biar tidak terlalu capek..hehe). Meskipun mungkin fokusku sedikit terganggu karena hari ini Rabu 25 Mei adalah pengumumanku apakah lolos diterima menjadi Dosen Tetap Non PNS di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Huuufh…bismillah, semoga Allah memberikan jalan terbaik..

Aamiin.. (Sambil intip-intip lihat pengumuman online)

Lets go Girls..!!!! Facing The CHAMPIONS Series WIBL 2015-2016… ^0^)/

Dadan Jordan: Basket Indonesia Bisa Lebih Maju Lagi, Bisa Lebih Diterima Masyarakat Indonesia

 Sosok yang passion dan mengganggap basket adalah bagian dari aktualisasi dirinya, membuat sosok ini terus bermain sampai saat ini. Sosok yang juga seorang Hair Stylist di Irwan Team ini dalah Dadan Jordan, Simak wawancara serunya disini
Dadan Jordan
Dadan Jordan
Kamu mulai suka basket sejak kapan sih?
Gw kenal basket mulai dr kelas 1 sma thn 1996-1997..
Siapa yang mengenalkan basket sama kamu?
Yang ngenalin basket ke gw club basket di Pamulang permai 2 BUFFALO… Gw belajar dari nol banget dari yang cupu abis sampai mendingan dikit..
Aksi Dadan saat dilapangan Basket
Aksi Dadan saat dilapangan Basket
Apa alasan kamu kok masih bermain basket sampai sekarang?
Alasan masih main basket adalah karena gw nggabisa maen bola =d =d…. Tapi setelah sekian lama gw menganggap basket itu sebagai Fashion gw jadi ngga bisa lepas… Terus gw juga pengen ikutan majuin perbasketan Indonesia tapi dengan cara gw sendiri gituu..
Dadan bersama team rajawali
Dadan bersama team rajawali
Apa profesimu sekarang? dan main di club atau main dengan team apa skr?
Profesi sekarang gw jauh dari bidang perbasketan sih, gw jadi HAIR STYLIST DI IRWAN TEAM HAIRDESIGN GRAND INDONESIA… (mungkin agak aneh yaa didenger’nya.. Beda sama profesi anak-anak basket lainnya).
Gw pernah maen di club BUFFALO Tangerang, Rajawali Jakarta, tapi sekarang sih udah ngga aktif lagi, lebih sering main sama komunitas-komunitas aja seperti SIWO PWI , MONDAY STWEETBALL, PLAYERS, TMS.. sama maen biasa aja..
Dadan saat bermain dengan komunitas wartawan Indonesia
Dadan saat bermain dengan komunitas wartawan Indonesia
Harapan kamu untuk basket indonesia apa?
Harapan gw buat basket Indonesia bisa lebih maju lagi, bisa lebih diterima masyarakat Indonesia, bisa lebih bervariasi lagi acara-acara yg ada lebih meriah..
Dadan saat bersama punggawa Stadium Basketball Club
Dadan (Pakai Topi) saat bersama punggawa Stadium Basketball Club
Apa pesan yang ingin kamu sampaikan buat anak-anak Indonesia yang ingin bermain basket?
Pesan buat anak-anak basket Indonesia…. MAEN BASKET TERUS JANGAN PERNAH BOSAN KARENA DENGAN BERMAIN BASKET LO BAKAL NEMUIN NAMANYA SAUDARA, SAHABAT, KELUARGA TANPA MEMANDANG RAS, SUKU, DAN AGAMA….
3 kata untuk ngobrolbasket.com
kekinian, seru, Inovatif (apaansih)..

Reza Noor Alam: Jadikan Basket Sebagai Pilihan Positif

Sosok yang satu ini sudah mengenal basket sejak kelas 4 SD, sosok yang masih bermain basket dan juga menjadi Head coach di club Basket Bintang Muda KU-18 ini sangat passion dengan basket. sosok itu adalah Reza Noor Alam. Simak wawancara serunya disini
Reza (paling kiri) bersama komunitas Monday Stweetball
Reza (paling kiri) bersama komunitas Monday Stweetball
Kamu mulai suka basket sejak kapan sih?
Saya mulai suka basket pas Kelas 4 SD.
Siapa yang mengenalkan basket sama kamu?
yang ngenalin olah raga basket pertama kali adalah orang tua & teman di daerah rumah.
a4ce0dbc-37b4-44cd-8e3e-6eb2b4f8149e
Apa alasan kamu kok masih bermain basket sampai sekarang?
Basket menurut saya adalah passion, selain itu juga menjaga kebugaran badan
Apa profesimu sekarang? dan main di club atau main dengan team apa skr?
Saya seorang Wirausaha dibidang Event Organizer. selain itu saya juga melatih basket di Club Bintang Muda KU-18. Untuk komunitas saya main bareng komunitas wartawan Indonesia dan akdang main di monday Stweetball
AkkmsmSOAJmrGiRkdf1qoAF5k4ETgMZTj_aPqy4gMT87
Harapan kamu untuk basket indonesia apa?
Harapan saya, Basket bisamenjadisalahsatupilihanhidupbangsaini. Karenabanyakhalpositif yang bisakitadapatkandari basket.
AtMTW6l91x3oVomhRY3z6jzNOcS5LKto7JzpnXIXoY-b
Apa pesan yang ingin kamu sampaikan buat anak-anak Indonesia yang ingin bermain basket?
Jadikan basket sebagai pilihan positif & jangan nodai basket dengan hal-hal yang negatif. Dukung terus basket indonesia.
3 kata untuk ngobrolbasket.com
kreatif, inovatif & positif.